Kamis, 10 Juli 2014

pengindraan jauh

DASAR-DASAR PENGINDRAAN JAUH 1. Definisi Pengindraan Jauh Istilah pengindraan jauh (remote sensing) pertama kali diperkenalkan oleh Parker di Amerika Serikat pada akhir tahun 1950-an dari instansi kelautan Amerika Serikat. Pada awal tahun 1970-an, istilah serupa juga di- gunakan di Prancis dengan sebutan “Telede- tection”, di Jerman dengan istilah “Fenerkun- dung” serta di Spanyol dengan istilah “Tele- perception”. Pengindraan jauh adalah suatu cara merekam objek, daerah atau gejala-gejala dengan menggunakan alat perekam tanpa kontak langsung atau bersinggungan dengan objek atau fenomena yang dikaji di permukaan bumi. Apabila di- analogikan, pengindraan jauh seperti pada saat Anda memotret suatu objek dengan menggunakan kamera biasa, dan dari hasil foto tersebut kita bisa menganalisis kejadian yang terjadi pada saat itu. Misalnya pada saat kita memperoleh gambar pemandangan, kita dapat menganalisis bahwa di sini ada A, ada B, dan sebagainya. Sebenarnya manusia juga mempunyai sensor, yaitu mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit, dan sensor yang terdapat pada makhluk hidup disebut dengan sensor alamiah. Dalam pengindraan jauh sensor yang digunakan bukanlah sensor alamiah, tetapi sensor buatan yang bisa berupa kamera, magnetometer, sonar, scanner, dan radiometer. Sensor dalam pengindraan jauh dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu sensor aktif dan sensor pasif. • Sensor aktif, yaitu suatu alat yang dilengkapi dengan pemancar dan alat penerima pantulan gelombang. Contoh pengindraan jauh radar dan pengindraan jauh sonar. • Sensor pasif, yaitu sensor yang hanya dilengkapi dengan alat penerima berupa pantulan gelombang elektromegnetik. Proses inderaja setidaknya memerlukan beberapa komponen berikut yaitu: 1. Sumber tenaga Proses inderaja memerlukan sumber tenaga/energi dalam hal ini cahaya untuk memantulkan objek ke sensor dalam hal ini matahari. Inderaja yang menggunakan matahari sebagai energinya dinamakan inderaja pasif sedangkan yang menggunakan energi buatan dinamakan inderaja aktif. 2. Atmosfer Atmosfer merupakan media perambat yang didalmnya terdapat zat-zat yang membantu proses perekaman. Atmosfer membantu melewatkan, menyebarkan dan merambatkan gelombang elektromagnetik. Kondisi atmosfer sangat memengaruhi terhadap pancaran energi yang masuk ke permukaan bumi. 3. Interaksi antara Tenaga dan Objek Setiap objek mempunyai sifat tertentu dalam memantulkan atau memancarkan tenaga ke sensor. Objek yang banyak memantulkan atau memancarkan tenaga akan tampak lebih cerah, sedangkan objek yang pantulan atau pancarannya sedikit akan tampak gelap. 3. Sensor Sensor adalah alat perekam objek yang berupa kamera foto maupun sensor gelombang elektromagnetik. Tiap sensor memiliki karakteristik masing-masing, ada yang memancarkan sinar tampak dan ada yang memancarkan sinar lainnya seperti infrared dan sinar gamma. Sensor kamera foto biasanya ditempatkan di pesawat sedangkan sensor elektromagnetik dipasang dalam satelit. 4. Citra Citra merupakan hasil rekaman inderaja dalam bentuk foto udara atau citra satelit. Foto udara menghasilkan gambar seperti foto kamera berwarna maupun hitam putih. Citra hasil rekaman gelombang mikro berbentuk data digital. Citra diolah dengan menggunakan software tertentu. Citra Inderaja 5. Pengguna Hasil inderaja tentunya akan digunakan oleh berbagai kalangan tertentu untuk berbagai kepentingan. Citra inderaja digunakan oleh lembaga-lembaga tertentu untuk menganalisis suatu kenampakan tertentu yang nantinya dijadikan dasar penentuan kebijakan pembangunan atau lainnya.

Sabtu, 28 Juni 2014

geologi gowa

PENYELIDIKAN GEOLOGI LINGKUNGAN REGIONAL KABUPATEN GOWA, PROPINSI SULAWESI SELATAN Daerah penyelidikan mencakup seluruh wilayah Kabupaten Gowa yang secara geografis terletak antara 119021’54” BT - 120001’54” BT dan 505’20” LS - 5034’10” LS, seluas 1.883,33km2. Secara administratif wilayah Kabupaten Gowa berbatasan sebelah utara dengan kota Makassar dan Kabupaten Maros, sebelah timur dengan Kabupaten Sinjai, Bulukumba, Bantaeng dan Kabupaten Jeneponto, sebelah selatan dengan Kabupaten Jeneponto dan Takalar, dan sebelah barat dengan Kabupaten Takalar dan Kota Makassar. Ketinggian wilayah ini berkisar antara 5m sampai 2.830m dari muka laut. Kisaran suhu rata-rata maksimum bulanannya antara 280C sampai 320C. Secara keseluruhan, curah hujan rata-rata tahunan di daerah penyelidikan berkisar antara 2.196 mm sampai 2.598 mm. Secara geologi daerah ini tersusun oleh batuan-batuan sediment dan terobosan Formasi Camba yang berumur Tersier, batuan gunungapi dan terobosan yang termasuk dalam kelompok batuan Gunungapi Baturappe-Cindako berumur Tersier, batuan Gunungapi Lompobatang yang berumur Kuarter, serta endapan alluvial. Daerah dataran yang merupakan daerah terendah di atas permukaan laut, umumnya ditempati oleh endapan alluvial. Kelompok batuan Formasi Camba dan batuan gunungapi Tersier umumnya menempati daerah perbukitan dan hanya sebagian kecil yang berada di daerah dataran serta di daerah dataran bergelombang; sedangkan daerah pegunungan yang merupakan bagian tertinggi dalam wilayah Kabupaten Gowa tersusun oleh batuan gunungapi Kuarter. Daerah dataran yang umumnya tersusun oleh endapan alluvial merupakan wilayah air tanah produktivitas sedang-rendah. Sedangkan daerah yang tersusun oleh batuan sedimen Formasi Camba dan Batuan Gunungapi termasuk batuan terobosan berumur Tersier merupakan wilayah airtanah dengan produktivitas sangat rendah hingga langka airtanah. Daerah pegunungan termasuk wilayah airtanah produktivitas sedang kecuali sebagian daerah di sekitar puncak merupakan wilayah airtanah langka. Bahan galian berupa pasir dan lempung banyak ditambang di daerah dataran terutama di daerah Bajeng, sedangkan sirtu di daerah lembah sungai Jeneberang di bagian hulu bendung Bili-Bili. Daerah bergelombang sering dibuat menjadi lebih landai bahkan datar dengan menggalinya sebagai tanah urug dan batubelah terutama di daerah yang tersusun oleh endapan gunungapi Tersier. Formasi Camba oleh para peneliti sebelumnya diinformasikan mengandung lapisan tipis batubara, sedangkan intrusi batuan gunungapi Baturappe-Cindako antara lain menghasilkan mineralisasi logam mulia. Dari segi kebencanaan, daerah Kabupaten Gowa ini tidak termasuk daerah yang rawan gempa bumi karena kondisi geologi lokal dan posisi tektoniknya yang jauh dari zona-zona sumber gempabumi. Daerah ini juga aman dari bencana gunungapi karena gunungapi terdekat yaitu Lompobattang sudah termasuk kategori padam. Namun beberapa tempat termasuk sangat rawan terhadap bencana gerakan tanah seperti di sebagian lereng gunung Bawakaraeng dan sebagian daerah perbukitan yang terjal. Selain itu daerah lembah sungai Jeneberang juga rawan terhadap bencana banjir bandang. Analisis Geologi Lingkungan dan skoring setiap komponen geologi lingkungan yang dimiliki oleh semua daerah dan dianggap berpengaruh terhadap pengembangan wilayah menunjukkan nilainya berkisar antara 33-62 atau kurang leluasa hingga cukup leluasa untuk dikembangkan, kecuali daerah tertentu yang tersisihkan merupakan daerah yang tidak layak kembang. Daerah yang cukup leluasa untuk dikembangkan direkomendasikan sebagai kawasan budidaya umum utamanya pertanian tanaman pangan semusim dan pengembangan kawasan non pertanian seperti pemukiman, perkantoran dan perdagangan. Sedangkan sebagian besar daerah yang agak leluasa lainnya dan daerah yang kurang leluasa untuk dikembangkan merupakan daerah yang direkomendasikan sebagai kawasan budidaya terbatas umumnya pertanian (termasuk hutan). Adapun daerah yang tidak layak kembang maka direkomendasikan sebagai kawasan lindung. Daerah yang cukup leluasa untuk dikembangkan sebagian besar terletak di dataran Sungguminasa - Takalar, sedangkan yang tidak layak menempati daerah di sekitar puncak perbukitan dan pegunungan terjal, sempadan sungai, waduk/danau dan mata air. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=197162633766083&set=t.100004170432543&type=3&src=https%3A%2F%2Ffbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net%2Fhphotos-ak-xpa1%2Ft31.0-8%2F976685_197162633766083_1050710847_o.jpg&smallsrc=https%3A%2F%2Ffbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net%2Fhphotos-ak-xpa1%2Ft1.0-9%2F936290_197162633766083_1050710847_n.jpg&size=1536%2C2048